Kebersihannya dari tuduhan ahli bid‘ah

Imam Abu Al-Qasim Ath-Thabarani رحمه الله terbebas dari tuduhan yang dialamatkan kepadanya oleh sebagian ahli bid‘ah dan kelompok yang menyimpang. Beliau adalah seorang yang mengikuti jejak para imam dan salafus shalih sebelumnya.

Para pelaku bid‘ah dan orang-orang yang menyelisihinya sebenarnya sangat ingin mendapatkan sanad yang tinggi (‘uluww al-isnad) serta banyaknya hadis yang beliau miliki. Mereka mendengar hadis darinya dan meriwayatkannya pula. Namun demikian, mereka tetap mencelanya dan menuduhnya sebagai “hasyawi” (istilah yang biasa digunakan untuk merendahkan Ahlul Hadits).

Kuatnya daya hafalannya

Imam Ath-Thabarani memiliki daya ingat yang sangat kuat. Di antara kisah yang menunjukkan hal itu adalah apa yang diceritakan oleh Ibrahim bin Yahya bin Mandah. Ia berkata,

“Abu Al-Qasim Ath-Thabarani pertama kali datang ke Ashbahan, lalu suatu hari aku berjalan bersamanya dan aku bertanya kepadanya tentang tahun kelahirannya, maka ia pun memberitahukannya kepadaku. Kemudian ia pergi dan kembali lagi pada kedatangannya yang kedua setelah empat belas tahun. Pada suatu hari, aku berjalan bersamanya menuju kota, lalu aku bertanya lagi kepadanya di daerah Maidan Fakhir tentang tahun kelahirannya.

Ia berkata,

يا أبا إسحاق أخذت في مثل هذا

‘Wahai Abu Ishaq, engkau masih menanyakan hal seperti ini?!’

Aku berkata,

أيش عملت؟

‘Apa maksudmu?’

Ia menjawab,

أليس قد سألتني عن مولدي في تلك السنة في قدمتي الأولى بباب دار محمد بن مقرن فأخبرتك به ؟

‘Bukankah engkau pernah bertanya kepadaku tentang tahun kelahiranku pada kedatanganku yang pertama dahulu, di depan pintu rumah Muhammad bin Muqrin, lalu aku telah memberitahukannya kepadamu?!’”

Akhlaknya

Di antara keistimewaan dan keutamaannya — semoga Allah merahmatinya — adalah sikap tawadhu’ (rendah hati) dalam menuntut ilmu, meskipun kedudukannya sangat tinggi, ilmunya luas, dan para gurunya memuliakannya. Mereka menghormatinya di berbagai majelis dan pertemuan.

Adz-Dzahabi rahimahullah berkata,

قد بلغني أنَّ: أبا القاسم سليمان بن أحمد بن أيوب الطبراني رحمه الله حضر يوماً مجلس القاضي أبي أحمد العسّال فاستَدْناه، فَسُرَّ بذلك، ويقولون: أنَّ أبا أحمد العسال قال: إذا سمعت أنا من الطبراني عشرين ألف حديث وسمع منه إبراهيم بن محمد بن حمزة ثلاثين ألف حديث وأبو الشيخ أربعين ألف حديث، كملنا

“Sampai kepadaku kabar bahwa Abu Al-Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub Ath-Thabarani رحمه الله pernah menghadiri suatu majelis Qadhi Abu Ahmad Al-‘Assal. Maka beliau dipersilakan duduk dekat dengannya, dan ia merasa senang dengan hal itu.

Mereka mengatakan bahwa Abu Ahmad Al-‘Assal berkata, ‘Jika aku mendengar dua puluh ribu hadis dari Ath-Thabarani, dan Ibrahim bin Muhammad bin Hamzah mendengar tiga puluh ribu hadis darinya, serta Abu Syaikh mendengar empat puluh ribu hadis darinya, maka sempurnalah (ilmu kami).’”

Adz-Dzahabi rahimahullah berkata,

هؤلاء كانوا شيوخ أصبهان مع الطبراني

“Mereka ini adalah para syekh Ashbahan bersama Ath-Thabarani.”

Ibnu Mandah rahimahullah berkata,

بلغني أن الطبراني كان حسن المشاهدة، طيب المحاضرة، قرأ عليه يوما أبو طاهر بن لوقا حديث:كان يغسل حصى جماره فصحَّفه، وقال:خصي حماره، فقال:ما أراد بذلك يا أبا طاهر. قال:التواضع، وكان هذا كالمغفل

“Sampai kepadaku kabar bahwa Ath-Thabarani adalah orang yang baik pergaulannya dan menyenangkan dalam berbincang. Suatu hari, Abu Thahir bin Luqa membaca hadis di hadapannya tentang ‘ia mencuci kerikil untuk jumrahnya’, namun ia keliru membacanya menjadi ‘ia mengebiri keledainya’. Maka Ath-Thabarani berkata, ‘Apa maksudnya itu, wahai Abu Thahir?’ Ia menjawab, ‘Tawadhu’.’ Orang ini memang agak lugu.”

Pujian para ulama terhadap Ath-Thabarani

Banyak ulama memberikan pujian kepada Imam Ath-Thabarani رحمه الله, yang dijuluki “Muhaddits Dunia”.

Di antara pujian yang disebutkan adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Ja‘far Muhammad bin Abdullah bin Al-Haitsam, yang dikenal dengan Ibnu Abi As-Sarri. Ia berkata,

Aku mendengar Abu Al-‘Abbas Ibnu ‘Uqdah berkata, pada tahun 323 Hijriah, ketika aku sedang mendengar darinya hadis-hadis tentang keutamaan Ahlul Bait, ia bertanya kepadaku tentang Abu Al-Qasim Ath-Thabarani.

Ia berkata, “Apakah engkau mengenalnya?”

Aku menjawab, “Tidak.”

Ia berkata, “Subhanallah! Ada orang sebesar itu di negeri kalian dan kalian tidak mendengar darinya?”

Kemudian ia berkata,

سمعت أنا وإياه من مشايخ جلة وسمع مني وسمعت منه ولا أعلمني رأيت أحداً أعرف بالحديث ولا أحفظ للأسانيد منه

“Aku dan dia sama-sama mendengar dari para syekh yang agung. Ia juga mendengar dariku dan aku mendengar darinya. Dan aku tidak mengetahui bahwa aku pernah melihat seseorang yang lebih mengetahui hadis dan lebih kuat hafalannya dalam sanad daripada dirinya.”

Muhammad bin ‘Umar Al-Jarwani berkata,

سمعت غير واحد من العلماء يقول: كان الطبراني في الرحلة ثلاثا وثلاثين سنة

“Aku mendengar lebih dari satu orang ulama yang mengatakan bahwa Ath-Thabarani melakukan perjalanan (menuntut ilmu) selama tiga puluh tiga tahun.”

Abdurrahman bin Abi ‘Abdillah bin Mandah berkata: Ayahku berkata,

سمعت من الطبراني أربعة آلاف حديث بالشام

“Aku mendengar (meriwayatkan) dari Ath-Thabarani sebanyak empat ribu hadis di wilayah Syam.”

Abu Al-Husain Ahmad bin Faris Al-Lughawi berkata bahwa dia mendengar Ustaz Ibnu Al-‘Amid berkata,

“Aku dahulu tidak menyangka bahwa di dunia ini ada kenikmatan yang lebih manis daripada kepemimpinan dan jabatan kementerian yang sedang aku jalani, sampai aku menyaksikan diskusi ilmiah antara Abu Al-Qasim Ath-Thabarani dan Abu Bakar Al-Ju‘abi di hadapanku.

Ath-Thabarani mengungguli Abu Bakar dalam banyaknya hafalan, sedangkan Abu Bakar mengunggulinya dalam kecerdasan dan ketajaman pikiran. Suara keduanya sampai meninggi, dan hampir tidak ada yang benar-benar mengalahkan yang lain.

Lalu Al-Ju‘abi berkata, ‘Aku memiliki sebuah hadis yang tidak dimiliki seorang pun di dunia selain aku.’

Ath-Thabarani berkata, ‘Sebutkanlah.’

Ia berkata, ‘Telah meriwayatkan kepada kami Abu Khalifah Al-Jumahi, telah meriwayatkan kepada kami Sulaiman bin Ayyub…,’ lalu ia menyebutkan sebuah hadis.

Maka Ath-Thabarani berkata, ‘Dari akulah Abu Khalifah mendengarnya. Dengarkanlah dariku agar sanadmu menjadi lebih tinggi.’

Maka Al-Ju‘abi pun merasa malu.

Saat itu, aku berharap seandainya aku bukan seorang menteri, melainkan menjadi Ath-Thabarani. Dan aku merasa gembira sebagaimana kegembiraannya.”

Ismail bin ‘Abbad berkata,

قد وجدنا في معجم الطبراني ما فقدنا في سائر البلدان بأسانيد ليس فيها إسناد

“Kami telah menemukan dalam Mu‘jam Ath-Thabarani apa yang tidak kami temukan di negeri-negeri lain, dengan sanad-sanad yang tidak terdapat pada (riwayat) lainnya.”

Abu Bakar bin Abi ‘Ali berkata,

الطبراني أشهر من أن يدل على فضله وعلمه، كان واسع العلم كثير التصانيف

“Ath-Thabarani lebih masyhur daripada perlu dijelaskan keutamaan dan ilmunya. Ia adalah seorang yang luas ilmunya dan banyak karya tulisnya.”

Abu Al-‘Abbas Asy-Syirazi berkata,

كتبت عن الطبراني ثلاثمائة ألف حديث وهو ثقة

“Aku menulis (meriwayatkan) dari Ath-Thabarani sebanyak tiga ratus ribu hadis, dan ia adalah seorang yang tsiqah (terpercaya).”

Ibnu Abi Ya‘la berkata,

كان – أي الطبراني – أحد الأئمة والحفاظ في علم الحديث

“Ia yaitu Ath-Thabarani termasuk salah satu imam dan hafizh dalam ilmu hadis.”

As-Sam‘ani berkata,

كان ثقةً حافظاً

“Ia adalah seorang yang tsiqah dan hafizh.”

Adz-Dzahabi berkata,

الحافظ مسند العصر أبو القاسم سليمان بن أحمد الطبراني بأصبهان ثقة

“Al-Hafizh, musnid pada zamannya, Abu Al-Qasim Sulaiman bin Ahmad Ath-Thabarani di Ashbahan adalah seorang yang tsiqah (terpercaya).”

Karya-karya Imam Ath-Thabarani رحمه الله

Imam Ath-Thabarani رحمه الله menulis dan meriwayatkan dari banyak guru, baik yang datang maupun yang pergi. Beliau unggul dalam bidang hadis, menghimpun dan menyusun banyak karya, serta berumur panjang hingga sempat meriwayatkan dari teman-teman seangkatannya.

Beliau terus menulis sepanjang hidupnya.

Di antara karya-karyanya yang paling terkenal:

1) Al-Mu‘jam Ash-Shaghir (7 jilid). Ia meriwayatkan satu hadis dari setiap guru.

2) Al-Mu‘jam Al-Kabir. Kitab ini merupakan mu‘jam (ensiklopedia) nama-nama para sahabat, biografi mereka, dan hadis-hadis yang mereka riwayatkan. Namun di dalamnya tidak terdapat Musnad Abu Hurairah, dan juga tidak mencakup seluruh hadis para sahabat yang banyak meriwayatkan hadis. Kitab tersebut terdiri dari dua ratus bagian (juz).

3) Al-Mu‘jam Al-Awsath (24 jilid). Kitab ini disusun berdasarkan guru-gurunya yang banyak meriwayatkan hadis, serta memuat hadis-hadis gharib yang beliau miliki dari masing-masing guru tersebut. Adz-Dzahabi rahimahullah berkata,

كان الطبراني – فيما بلغنا – يقول عن (الأوسط):هذا الكتاب روحي

“Telah sampai kepada kami bahwa Ath-Thabarani pernah mengatakan tentang kitab (Al-Mu‘jam) Al-Awsath, ‘Kitab ini adalah ruhku.’

Karya lainnya meliputi:

  • Musnad Al-‘Asyarah (30 jilid)
  • Musnad Asy-Syamiyyin (10 jilid)
  • Kitab An-Nawadir (10 jilid)
  • Kitab Ma‘rifat Ash-Shahabah
  • Kitab Al-Fawa’id (10 jilid)
  • Musnad Abu Hurairah
  • Musnad ‘Aisyah
  • Musnad Abu Dzar (2 jilid)
  • Kitab At-Tafsir
  • Dalail An-Nubuwwah (10 jilid)
  • Kitab Ad-Du‘a (10 jilid)
  • Kitab As-Sunnah (10 jilid)
  • Kitab Ar-Radd ‘ala Al-Mu‘tazilah
  • Kitab Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah
  • Kitab Bayan Kufr Man Qala bi Khalq Al-Qur’an
  • Kitab Makarim Al-Akhlaq
  • Kitab Fadhail Al-‘Ilm wa Ittiba‘ Al-Atsar
  • Kitab Ash-Shalah ‘ala An-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
  • Kitab Al-Maghazi dan Al-Manasik
  • Kitab Fadhail Ramadhan
  • Kitab Fadhail Al-‘Arab
  • Kitab Fadhail ‘Ali رضي الله عنه
  • Kitab Dzikr Al-Khilafah li Abi Bakr wa ‘Umar
  • Kitab Jami‘ Shifat An-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
  • Kitab Nasab An-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
  • Kitab Al-Asyribah (Minuman)
  • Kitab Ath-Thaharah
  • Kitab Al-Imarah

Dan puluhan kitab musnad lainnya yang dinisbahkan kepada para tabi‘in dan perawi besar seperti: Al-A‘mash, Al-Auza‘i, Malik bin Dinar, Hasan Al-Bashri, Sufyan Ats-Tsauri, Syu‘bah bin Al-Hajjaj, dan banyak lainnya.

Al-Hafizh Yahya bin Mandah berkata,

وأكثرها مسانيد حفّاظ وأعيان لم نرها

“Sebagian besar karya beliau adalah musnad para huffazh dan tokoh besar yang belum pernah kami lihat sebelumnya.”

Wafatnya

Beliau رحمه الله wafat pada hari Sabtu, dua malam sebelum berakhirnya bulan Zulkaidah tahun 360 Hijriah di Ashbahan. Beliau dimakamkan pada hari Ahad, yaitu hari terakhir bulan Zulkaidah, di samping kubur Hammamah bin Abi Hammamah Ad-Dausi رضي الله عنه — seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di gerbang kota Jay yang dikenal dengan nama Tirah. Ath-Thabarani hidup selama seratus tahun sepuluh bulan, dan enam puluh tahun di antaranya beliau habiskan di Ashbahan.

Demikianlah beliau wafat setelah memperkaya umat Islam dengan karya-karya dan susunan kitab yang sangat banyak. Beliau menjaga dan menghimpun hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan jumlah yang tidak mampu dihimpun oleh banyak muhaddits dan huffazh lainnya.

Semoga Allah merahmatinya dan menempatkannya di dalam surga-Nya yang luas.

[Selesai]

KEMBALI KE BAGIAN 1

***

Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

Diterjemahkan dan disunting ulang oleh penulis dari website https://aqsaonline.org/BlogPosts/Details/09899441-434e-48b9-9b2f-208068b53160


PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch

Similar Posts